Ngopeni Ngelakoni

Ngopeni Ngelakoni

Upayakan Antiperundungan, Ning Nawal: Mendidik Anak Bukan dengan Ancaman Sanksi

SEMARANG – Lingkungan pendidikan di Jawa Tengah didorong untuk bisa bebas dari tindakan perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi. Oleh karena itu, semua pihak khususnya sekolah, mesti mengupayakan tindakan yang lebih baik untuk anak didik, bukan malah memberikan sanksi. “Yang harus dipahami, bahwa mendidik tidak harus melakukan sesuatu dan menghukum. (Kalau demikian) ini bukan sekolah, ini bukan pendikan, tapi mahkamah kalau seperti itu. Tapi yang penting adalah, kita dengar suara anak, apa yang dibutuhkan anak, insyaallah anak akan manut,” kata Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah, Ning Nawal Arafah Yasin, seusai menjadi pembicara Konsolidasi Daerah Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jateng, di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Tengah, Kamis (8/5/2025) petang. Menurut istri Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen itu, mereka yang hanya memikirkan sanksi ketika anak bersalah, berarti bukan insan lembaga pendidikan, melainkan mahkamah. Dalam kegiatan yang dihadiri para Kepala Dinas Pendidikan se-Jateng dan lembaga terkait lainnya tersebut, Ning Nawal menuturkan hal penting yang bisa menjadi pegangan lembaga pendidikan. Di antaranya, pendekatan seperti disiplin positif, komunikasi efektif, dan belajar reflektif. Pendekatan untuk mendisiplinkan anak dengan penuh kesadaran bisa dilakukan, sehingga bukan terus menjustifikasi anak. Tapi melakukan komunikasi yang baik sesuai dengan kebutuhan anak. Selain itu, partisipasi anak juga harus dilibatkan. Karena pendidikan berprinsip pada partipsipasi anak, antidiskriminasi, memperhatikan tumbuh kembang anak, harus mendengarkan suara anak, dan antikekerasan. “Bagaimana anak, membutuhkan apa, sehingga mereka merasa dihargai. Dia juga dalam melakukan nilai baik, bisa dilakukan dengan penuh kesadaran, bukan karena takut pada gurunya,” ujarnya. Ning Nawal menuturkan, yang dibutuhkan anak untuk bisa menjadi lebih bernilai, adalah saling menghargai, mencintai, sehingga tumbuh rasa mahabbah atau cinta yang mendalam. Selanjutnya, anak harus memiliki jiwa berjuang, dan ulet, jadi bukan serta-merta hanya belajar, menulis, atau tanpa melakukan keterampilan hidup lain yang layak. Namun harus dengan bimbingan dan dukungan guru, untuk terus melakukannya. “Itu adalah skill hidup yang harus dikuasai anak-anak, supaya anak-anak menjadi pribadi yang ulet dan kerja keras, kemudian juga harus saling tolong-menolong atau taawun, juga harus dididik memiliki rasa tawadu (rendah hati), sederhana,” terangnya. Selanjutnya, sekolah atau lembaga pendidikan juga memberikan SOP (standard operating procedure), yaitu serangkaian instruksi tertulis yang menjelaskan bagaimana suatu proses kerja harus dilakukan. “Yang bisa ditawarkan di sekolah itu harus memiliki SOP, bagaimana pelaporannya, jangan sampai anak-anak aksesnya itu sulit, sehingga takut untuk speak-up, misalnya. Jadi, akses harus dipermudah tapi di situ juga ada kenyamanan untuk anak-anak, terjaga privasi dan rahasianya, jangan sampai jadi takut anak-anak, berkasnya tidak dijaga,” imbuhnya. Dalam pengumpulan saksi, beber Ning Nawal, juga ada mediasi yang tidak memojokkan hak anak. Kemudian ada rekonstsruksi dan rehabilitasi. Menurutnya, rehabilitasi mental, dan rehabilitasi adanya luka fisik atau lainnya, bisa dilakukan dengan kerja sama dengan ahli yang ada. “Kita butuh bantuan hukuk, ya kita MoU dengan LBH, kita butuh psikiater untuk rehabilitasi mental, kita MoU dengan universitas yang menyediakan psikiater. Kita butuh medis, recovery medis, kita MoU dengan puskesmas terdekat. Itu yang bisa kita lakukan,” terang Ning Nawal. Ia menyinggung pula soal pentingnya advokasi, cara menangani, dan teknik, yang harus dimiliki guru. “Ini juga harus ada SOP, sampai pada pelapor dan sampai kepada rehabilitasi, dan sampai kepada recovery, itu harus ada SOP,” tambah dia. Yang tak kalah penting, bagaimana melayani pengaduan orang tua, atau mungkin ada miskomunikasi. Maka perlu adanya peraturan, dan ada kesepakatan bersama. Juga, perlunya komunikasi intens dengan orang tua, yang dikomunikasikan dengan baik. “Juga ada kesepakatan, dan peraturan yang tertulis. Ini nanti bisa menjadi solusi untuk bermediasi, ketika terjadi adanya aduan dari orang tua,” pungkasnya.***

Ngopeni Ngelakoni

Akselerasi Posyandu 6 SPM, Nawal Dorong “Pilot Project” di Kabupaten/ Kota

SEMARANG – Ketua Tim Pembina Posyandu Jawa Tengah Hj. Nawal Arafah Yasin, M.S.I. mendorong akselerasi enam Standar Pelayanan Minimum (SPM) bagi 49.149 Pos Pelayanan Terpadu di 35 kabupaten/kota. Hal itu ditekankan Ning Nawal, panggilan akrabnya, mengingat fungsi Posyandu kini tidak hanya timbang ukur balita dan ibu hamil atau sektor kesehatan, tapi juga mencakup layanan sosial, pendidikan, ketentaman ketertiban umum dan perlindungan masyarakat (trantibum linmas), perumahan rakyat, serta pekerjaan umum. “Kita akan melakukan pembentukan pilot project (proyek rintisan) dulu. Di beberapa kabupaten di Jateng ini, sudah ada yang melayani enam SPM ini. Seperti Kota Semarang dan Solo,” ucapnya, saat kegiatan Rakor Pembina Posyandu di Gedung PKK Jateng, Kamis (15/5/2025). Selanjutnya, terang Ning Nawal, akan ditentukan beberapa pilot project, yang dilanjutkan dengan sosialisasi, bagaimana melaksanakannya secara teknis. “Kemudian juga ada pelatihan, supaya nanti di seluruh Jawa Tengah ada 49.149 posyandu pada hari ini, berkomitmen untuk siap melayani 6 SPM,” sorotnya yang juga Ketua TP PKK Jateng ini. Ditekankan, pihaknya sangat mendukung program pemerintah pusat. Karenanya, dalam waktu dekat pihaknya segera mengimplementasikan Permendagri Nomor 13 Tahun 2024 tentang Posyandu, melalui mekanisme pilot project Posyandu 6 SPM. Setidaknya, bakal ada tiga wilayah di Jateng yang membentuk pilot project Posyandu 6 SPM. Sehingga nantinya, akan menjadi acuan bagi Pos Layanan Terpadu di kabupaten/ kota lain di Jawa Tengah. Ning Nawal juga mendorong inovasi di Posyandu Jateng. Di antaranya, dengan layanan desalinasi (mengubah air asin menjadi tawar), satu di antaranya di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak. Tidak kalah pentingnya, kebijakan Posyandu 6 SPM juga disinergikan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. “Kita akan lakukan rencana kerja dengan OPD terkait, untuk percepatan Posyandu dengan 6 SPM ini,” pungkas Ning Nawal.

Ngopeni Ngelakoni

Ning Nawal Minta Peserta Pelatihan Ekonomi Kreatif Tularkan Ilmu Kepada Warga Sekitar

SEMARANG – Ketua TP PKK Jawa Tengah Hj.Nawal Arafah Yasin, M.S.I mengapresiasi pelatihan keterampilan usaha ekonomi kreatif, bagi 100 kader PKK, di Gedung Balatkop, 14-15 Mei 2025. Kegiatan itu diharap mampu menularkan keterampilan, dan meningkatkan perekonomian perempuan. Hal tersebut disampaikan Ning Nawal, panggilan akrabnya, seusai menutup kegiatan yang diikuti kader PKK/UP2K PKK dari 35 kabupaten/ kota seantero Jateng. Dia berharap, kegiatan itu mampu menumbuhkan wirausahawan baru di bidang fesyen, kriya, dan handicraft. “Pelatihan ini untuk membuat unit usaha untuk kesejahteraan ibu-ibu PKK. Para kader sudah bisa melakukan dalam waktu dua hari. Harapannya, ketika pulang bisa menularkan keterampilan ke tempat masing-masing, membuat kelompok usaha perempuan,” paparnya, Kamis (15/5/2025) sore. Ning Nawal menambahkan, setelah purna dari pelatihan, instansi terkait, seperti Dinas Koperasi dan UKM Jateng, mampu memberi pendampingan. Sehingga, mereka matang secara kualitas, dan mampu memenuhi kuantitas dari konsumen. “Nantinya akan kita kolaborasi dengan Dinas Koperasi, kemudian ada bantuan modal usaha, akan kita kawal dengan inkubasinya. Ini salah satu hasil yang sudah dipasarkan dari peserta. Harapannya, kita akan terus dampingi agar bisa lolos kurasi,” imbuh Ning Nawal. Peserta pelatihan asal Blora, Dian Kartika, mengaku senang dapat mengikuti pelatihan tersebut. Baginya, ajang itu memberikan pengetahuan baru. “Bagus, memberi inspirasi dan memperdalam keterampilan. Senang saya bisa diberi kesempatan mengikuti pelatihan ini. Harapannya, bisa menambah perekonomian bagi keluarga,” tuturnya. Hal serupa diungkapkan peserta asal Cilacap, Sulistyaningsih. Dengan keterampilan memanfaatkan kain perca, ia yakin bisa menambah pundi ekonomi bagi kader PKK di sekitarnya. “Ini sangat bermanfaat, bisa memanfaatkan barang bekas dengan nilai yang lebih tinggi. Nanti rencananya dimanfaatkan usaha secara kelompok. Selain itu, lingkungan jadi lebih bersih,” pungkasnya. Saat penutupan kegiatan, peserta memamerkan produk yang sudah dibuat selama pelatihan. Mulai rompi, tas, dompet, vas bunga, dan sebagainya.***

Ngopeni Ngelakoni

Hindari Bullying dan Kekerasan Seksual, Wagub Minta Setiap Pesantren Harus Buka Konseling

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam mendampingi pesantren membangun lingkungan yang bebas dari kekerasan. “Alhamdulillah agenda yang disiapkan DP3AP2KB bersama UNICEF dan LPA Klaten langsung ditindaklanjuti. Dari pelatihan untuk 70 pesantren kemarin, muncul ide agar pelatihan lanjutan digelar langsung di pondok-pondok,” ujar pria yang akrab disapa Gus Yasin itu usai menerima audiensi perwakilan UNICEF di ruang kerjanya, Jumat, 16 Mei 2025. Dalam audiensi tersebut, sempat tercetus wacana peluncuran program pendampingan yang lebih intensif untuk santri dan pengasuh pada Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025 Pemerintah juga akan menggandeng Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, hingga Dinas Kesehatan dalam pencegahan kekerasan lewat program lintas sektor seperti Speling dan Kecamatan Berdaya. “Kita ingin semua program dikeroyok bareng. Bahkan nanti akan kita susun produk hukum turunan dari Perda Pesantren untuk menguatkan perlindungan di dalamnya,” imbuhnya. Lebih lanjut, Gus Yasin juga menyoroti pentingnya kehadiran layanan konseling di lembaga pendidikan, termasuk pesantren. “Konseling harus kita dekatkan ke satuan pendidikan. Nanti dari DP3AP2KB akan menerbitkan buku saku panduan bagi santri dan pengasuh. Mereka akan tahu bagaimana bersikap saat menghadapi atau melihat kasus bullying,” ujarnya. Audiensi itu menjadi tindak lanjut dari pelaksanaan Training of Facilitator (ToF) bertema Kesejahteraan Remaja di Pesantren yang digelar di BPSDMD Provinsi Jawa Tengah, dua hari sebelumnya. Kepala Perwakilan UNICEF Wilayah Jawa, Ignatius Setyawan Cahyo, menyampaikan apresiasinya terhadap kepemimpinan dan komitmen Jawa Tengah dalam isu perlindungan anak. “Saya sangat senang bisa mendukung Pemerintah Jawa Tengah. Kepemimpinannya sangat proaktif dan progresif dalam mengurangi segala bentuk kekerasan terhadap anak, termasuk diskriminasi dan intoleransi. Ini menumbuhkan optimisme bahwa penghapusan kekerasan terhadap anak di seluruh Indonesia itu mungkin,” ujar Cahyo. UNICEF menilai kegiatan ToF sangat penting untuk melihat seberapa jauh pemahaman pengasuh pesantren terhadap isu kekerasan. Organisasi internasional ini juga berterima kasih atas dukungan penuh Pemprov Jawa Tengah dalam menyukseskan pelatihan tersebut. Turut hadir dalam audiensi tersebut, Kepala DP3AP2KB Provinsi Jawa Tengah, Emma Rachmawati dan Ketua LPA Klaten, Akhmad Syakur.***

Ngopeni Ngelakoni

Penipuan Mengintai Kita, Jawa Tengah Bentuk Satgas Keuangan Ilegal

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menjadi salah satu yang dilibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setempat dalam Tim Kerja Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas Pasti) Jateng. Satgas yang terdiri dari instansiblintas sektor itu akan menangani terkait investasi hingga pinjaman online (pinjol) ilegal. Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin, mengaku akan mengoptimalkan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait seperti Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) provinsi untuk kanal-kanal edukasi. “Di Satgas ini ada Kominfo kami, sehingga memasifkan kanal-kanal yang dimiliki Pemprov Jateng. Disampaikan, ini ada perusahaan pinjaman online yang legal,” katanya dalam rapat koordinasi di Kantor OJK Jateng, Kamis, 15 Mei 2025. Dijelaskannya, dari benak masyarakat perlu lebih dahulu dibangun kewaspadaannya. Harus memiliki kesadaran kritis akan iming-iming hadiah yang fantastis yang ditawarkan investasi ataupun pinjol ilegal. “Penipuan mengintai kita semua. Salah satunya iming-iming hadiah mobil, investasi yang nominal keuntungan fantastis. Ini yang diwaspadai,” katanya. Selanjutnya, Taj Yasin mengajak masyarakat untuk berani dan cepat melaporkan bila mendapati pesan-pesan dan tawaran yang mencurigakan. “Maka di Satgas Pasti, ada kanal-kanal pengaduan. Saya mohon kepada masyarakat, ketika ada penipuan segera berani melaporkan,” ucap sosok yang akrab disapa Gus Yasin itu. Tak kalah penting, Taj Yasin mengajak Satgas Pasti untuk memberikan pengetahuan akan manajemen keuangan. Diharapkan masyarakat mengetahui dan bijak dalam mengatur keuangan, agar terhindar terjebak investasi, dan pinjol ilegal. Kepala OJK Hidayat Prabowo, menyatakan, Satgas Pasti siap berkolaborasi. Dengan tugas yang dimiliki, diharapkan dapat berperan mengawal dan menumbuhkan perekonomian masyarakat. Di tempat yang sama, Deputi Komisioner Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Pelindungan Konsumen OJK Rizal Ramadhani menambahkan, melalui Anti-Scam Center (IASC) telah menerima lebih dari 105 ribu laporan dari masyarakat terkait penipuan keuangan. Dari angka tersebut, total rekening yang dilaporkan mencapai 172.624. Hasilnya, jumlah rekening yang telah diblokir mencapai 42.504 rekening. Rizal bilang, sejak diluncurkan pada November 2023 hingga 25 April 2025, tercatat nilai kerugian yanh ditaksir mencapai Rp2,1 triliun. Dari total kerugian tersebut, dana sebesar Rp138,9 miliar berhasil diblokir dan diamankan.***

Ngopeni Ngelakoni

Taj Yasin Himbau Desa di Jateng Punya Kearsipan JDIH untuk Transparansi Arah Pembangunan

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) mendorong penguatan serta dibentuknya kearsipan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) hingga tingkat pemerintah desa (Pemdes). Realisasinya bisa dibuatkan melalui kanal website tiap desa. Hal itu dikatakannya saat membuka Rapat Koordinasi Pengelola JDIH, sekaligus menyerahkan Penghargaan Pengelola JDIH Terbaik di Lingkungan Provinsi Jateng 2025 di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Kamis, 15 Mei 2025. Pada kesempatan itu, Taj Yasin mengaku senang, karena pemerintah desa akan dilibatkan dan didorong memiliki JDIH dalam rangka menuju satu data dokumen hukum. “Kami senang desa dilibatkan dan didorong. kami ingin dibentuknya JDIH desa, supaya transparan akan arah pembangunan, dan tahu mana yang diperbolehkan dan tidak,” kata dia. Terlebih, kata Taj Yasin, kedepannya akan banyak program dari pemerintah pusat dan provinsi yang dijalankan pada tingkat desa. Di mana butuh kejelasan landasan hukum dan transparansi pelaksanaanya. “2025-2026, (terkait) keuangan banyak masuk di desa. Ada Koperasi Desa Merah Putih, hingga ketahanan pangan,” ucap sosok yang akrab disapa Gus Yasin itu. Sosok kelahiran Kabupaten Rembang itu menambahkan, penguatan JDIH di tingkat desa akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan regulasi-regulasi dalam menentukan arah pembangunan. “Masyarakat dan Pemdes mengetahui. Ketika ada pembangunan, musyawarah desa, penetapan masyarakat miskin penerima program manfaat. Nah, dokumen-dokumen itu (dasar) yang mengatur, siapa sih yang dapatkan manfaat sosial. Kemudian pembangunan desanya bagaimana,” kata Taj Yasin. Apalagi saat ini, lanjutnya, masyarakat semakin melek dunia digital. Maka penguatan JDIH di tingkat desa sudah sewajarnya dilakukan. Kepqla Biro Hukum Setda Provinsi Jateng, Haerudin, menambahkan, instansinya menjadi pusat dalam melaksanakan pembinaan, monitoring, dan evaluasi. Mulai dari sosialisasi standar pengelolaan JDIH, aspek organisasi. Hal itu dalam rangka menuju satu data dokumen hukum yang terpusat.***

News, Ngopeni Ngelakoni

Wagub Jateng Tegaskan Jawa Tengah Tidak Kirim Anak Nakal ke Barak Militer

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak akan menerapkan penegakan disiplin anak-anak nakal untuk dikirim ke barak militer sebagaimana yang dilakukan Pemerintah Jawa Barat. Menurutnya, kedisiplinan wajib diterapkan. Namun tidak harus dilakukan dengan memasukkan pelajar ke barak militer. “Nggak lah, kita kan ada aturannya, kita bukan negara yang siap perang kok. Kita sudah tahu kedisplinan itu wajib. Di Jawa Tengah punya sekolah yang bekerja sama dengan militer dan mereka dilatih di sekolah,” beber Wagub usai menjadi Inspektur pada Apel Kesiapsiagaan Satpol PP, Satuan Linmas, dan Satuan Damkar Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Kamis (15/05/2025) di Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. Wagub menegaskan, yang paling utama bagi pelajar adalah ketertiban, kedisiplinan, dan paham bahwa mereka usia untuk belajar. “Itu yang paling utama,” tegas Wagub. Dikatakan, setiap daerah memiliki permasalahan sendiri – sendiri yang tidak sama satu sama lain. Jawa Tengah, mempunyai keakraban yang berbeda dengan masyarakat Jawa Timur ataupun Jawa Barat. “Saya berharap tidak ada pembandingan-pembandingan, sama-sama menjalankan tugas yang tujuannya adalah kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya. Penegasan ini menjawab pertanyaan masyarakat akankah penerapan pelajar masuk barak militer akan diterapkan juga di Jawa Tengah, sebagaimana yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi membuat kebijakan anak nakal dikirim ke barak Militer untuk dididik karakter kebaikan. Tentu saja anak yang memang diserahkan oleh orang tuanya karena sudah menyerah untuk mendidiknya. Kebijakan ini menimbulkan pro dan kontra. Komnas HAM dan aktivis pendidikan menilai kebijakan itu tidak tepat karena melanggar UU hak anak. Anak nakal bukan dikirim ke barak tetapi harus dididik di sekolah dan orang tuanya. Kebijakan ini juga dianggap sebagai program putus asa karena tidak punya cara mendidik anak yang benar. Namun banyak juga yang setuju karena diharapkan anak bisa berubah. Pendidikan tegas ala Militer mampu merubah karakter anak yang sudah tidak bisa dibina oleh orang tuanya. Bahkan Menteri HAM RI Natalius Pigai mengapresiasi program ini. Jika bagus bukan tidak mungkin diadopsi oleh pemerintah pusat untuk menangani anak-anak yang bermasalah.***

Ngopeni Ngelakoni

Wagub Jateng Minta Tiga Fokus: Jateng Bijak, Jateng Makmur, Jateng Nyaman

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meminta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), dan Satuan Pemadam Kebakaran (Damkar), untuk selalu memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. “Selamat Ulang Tahun Satpol PP, Satlinmas, dan Damkar. Semakin meningkat untuk menciptakan situasi yang memungkinkan pemerintah dan masyarakat menyelenggarakan kegiatan tertib, teratur serta terlindungi,” ujar Taj Yasin saat menjadi Inspektur Apel Kesiapsiagaan Pol PP, Linmas dan Damkar Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Kamis (15/05/2025) di Halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. Taj Yasin menyampaikan, apel diharapkan menjadi momen mewujudkan komitmen dalam membangun Jawa Tengah dengan semangat Ngopeni Nglakoni. Sehingga harus menginspirasi agar peduli dan berkomitmen mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ada tiga hal, kata Taj Yasin, yang menjadi dasar fokus kerja. Yakni, Jateng Bijak, Jateng Makmur, dan Jateng Nyaman. Melalui penegakan Perda, tugas Satpol PP untuk melakukan penertiban dilaksanakan dengan tegas namun tetap humanis. Seperti, dalam menangani bangunan liar atau pelanggaran lainnya.Kepada Damkar, Taj Yasin berpesan agar petugas memahami peralatan dan respon terhadap situasi melalui peningkatan kapasitas dengan pendidikan dan pelatihan. “Optimalkan pemanfaatan teknologi dan sistem peringatan dini. Saya yakin panjenengan semua sudah terlatih. Saya titip Jawa Tengah sehingga visi kita Indonesia Emas 2045 bisa terwujud,” tandasnya. Kepada wartawan usai apel, Taj Yasin mengatakan harapannya kepada ketiga organ penting dalam pemerintahan tersebut. Menurutnya, sebagai pihak yang berhubungan langsung dengan masyarakat, petugas dari semua satuan harus menomorsatukan keakraban, humanis dan jangan sampai menimbulkan permasalahan. “Saya titip agar dalam menegakkan aturan Perda tetap menjaga keakraban dan humanis. Sedangkan untuk Damkar saya yakin semua sudah terlatih dan lebih ditingkatkan lagi untuk merespon apa saja kebutuhan masyarakat dalam hal kebencanaan non bencana, saya harap ini dapat dijaga dengan baik,” pungkasnya. Pada kesempatan itu, enam daerah memperoleh penghargaan Satpol PP terbaik. Yakni Satpol PP Kabupaten Brebes (Juara 1), Kabupaten Cilacap (Juara 2), Kabupaten Kebumen (Juara 3), Kabupaten Sukoharjo (Juara Harapan 1), Kota Surakarta (Juara Harapan 2) dan Kabupaten Pemalang (Juara Harapan 3).***

Ngopeni Ngelakoni

Wagub Jateng Pastikan Insentif Guru Agama Rp 1,2 juta Tetap Cair, Bahkan Tambah Jika PAD Naik

SEMARANG – Kabar baik buat guru agama di Jawa Tengah. Bantuan insentif dari pemerintah provinsi senilai Rp 1,2 juta per tahun tetap akan cair. Bahkan bisa bertambah jumlah penerimanya jika APBD Jawa Tengah naik pada tahun 2025 dan seterusnya. Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen (Gus Yasin), menanggapi kabar insentif guru agama yang sudah pernah berjalan sebelumnya. “Pada tahun ini sudah ada sekali penerimaan, yang akan dilanjutkan dengan termin selanjutnya. Nanti ada dua termin atau tiga termin yang akan diturunkan dari Kementrian Agama, dan kita juga hibahnya kesana,” kata Wagub, usai membuka Training of Fasilitator (ToF) Kesejahteraan Remaja di Pesantren, di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah, Rabu (14/5). Wagub mengatakan, pada tahun depan, insentif juga tetap akan diteruskan. Bahkan, ada kemungkinan jumlah penerima bertambah dengan catatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) mengalami kenaikan. “Akan tetap kita teruskan, semoga kalau PAD nya naik akan kita tambah lagi,” ujarnya. Wagub menjelaskan, guru agama yang menerima insentif tidak saja guru agama Islam. Tetapi juga guru agama yang lain. Seperti guru sekolah Minggu (Kristen/Katolik), guru Pasraman (Hindu), dan Vijjalaya (Buddha). “Jadi jangan salah paham ya. Semua guru agama dapat. Dari dulu ya seperti itu,” ucapnya. Sementara itu, berdasarkan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD 2024, insentif guru keagamaan dialokasikan untuk 230.830 orang. Jumlah tersebut sama dengan jumlah penerima pada 2023 lalu. Belum semua guru agama menerima karena harus diverifikasi oleh Kemenag. Bantuan insentif dicairkan setahun sekali. Program bantuan insentif kepada pengajar agama di Provinsi Jawa Tengah sudah dilaksanakan sejak tahun 2019 dalam bentuk hibah. Dana dari pemprov tetapi hibahnya melalui Kemenag yang menangani guru agama. Bantuan itu merupakan bentuk perhatian Pemprov Jateng untuk para pengajar agama, yang telah mengamalkan ilmu untuk membentuk karakter siswa. Di awal program, pada tahun 2019, sebanyak 171.131 orang pengajar agama yang mendapatkan insentif. Pada 2020, total penerima bertambah 40.324 orang menjadi 211.455 orang, baik untuk pengajar agama Islam di Madrasah Diniyah (Masing-masing),Pondok Pesantren dan TPQ, Sekolah Minggu (Kristen/Katolik), Pasraman (Hindu), dan Vijjalaya (Buddha). Pada termin III tahun 2024, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyerahkan bantuan insentif pengajar keagamaan total sebesar Rp104.766.400.000. Sebanyak 262.020 pengajar keagamaan se-Jawa Tengah mendapatkan bantuan insentif tersebut. Rinciannya, insentif sebesar Rp92.382.000.000 diberikan kepada 230.830 pengajar melalui Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, bantuan Rp3.783.200.000 diserahkan kepada 9.458 orang di Kabupaten Rembang, bantuan Rp5.126.400.000 diberikan kepada 12.932 orang di Kabupaten Grobogan, dan insentif sebesar Rp3.474.800.000 diberikan untuk 8.800 penerima bantuan di Kabupaten Blora.***

Ngopeni Ngelakoni

Taj Yasin Ingatkan Sungai Penopang Pangan Perlu Dijaga dari Sampah

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam menjaga kelestarian sungai dan daerah aliran sungai (DAS) sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan di daerah. Hal itu disampaikan saat menghadiri Sidang I dan Pengukuhan Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air (TKPSDA) Wilayah Sungai Bodri–Kuto periode 2025–2029, di Kantor Dinas Pusdataru Jawa Tengah, Rabu, 14 Mei 2025. Menurut Taj Yasin, sungai seperti Bodri dan DAS lainnya berfungsi vital sebagai penyedia air bagi pertanian dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, ia menekankan pengelolaan dan pelestarian sungai harus dilakukan secara serius dan menyeluruh, termasuk melalui pengendalian sampah. “Kita berbicara soal banyak hal, salah satunya adalah ketahanan pangan. Sungai seperti Bodri dan DAS lainnya menjadi penopang penting. Maka harus dikelola, dijaga, dan dilestarikan—termasuk dalam hal penanganan sampah,” ujarnya. Ia juga mengingatkan permasalahan sampah tidak hanya datang dari kawasan permukiman, tapi juga dari area pasar yang hingga kini masih sering luput dari perhatian. “Kalau dibiarkan, dampaknya tidak hanya ke lingkungan, tapi juga ke biaya penanganannya. Jadi ini harus ditangani secara menyeluruh dan terstruktur,” katanya. TKPSDA WS Bodri–Kuto yang dikukuhkan berjumlah 39 anggota, terdiri atas 20 orang dari unsur pemerintahan dan 19 orang dari unsur non-pemerintah. Para anggota non-pemerintah ini diharapkan menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah dalam menyampaikan informasi lapangan, termasuk laporan dini terkait potensi bencana seperti banjir bandang atau rob. “Kita percaya mereka akan menjadi ujung tombak edukasi di lapangan, termasuk menyampaikan laporan dini kalau ada potensi bencana,” lanjut Taj Yasin. Setali tiga uang, Pemprov Jateng juga tengah mempersiapkan pembentukan Satgas Sampah. Taj Yasin menyebut satgas tersebut dapat bekerja lintas sektor dan bersinergi dengan TKPSDA serta tim teknis lainnya. Langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan lingkungan yang lebih terkoordinasi. Sementara itu, Plt. Kepala Bidang Infrastruktur Pengembangan Wilayah Dinas Pusdataru, Lambang Antono, melaporkan bahwa pengukuhan TKPSDA WS Bodri–Kuto ini telah ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/83 Tahun 2025. Tim ini akan menjadi wadah koordinasi lintas instansi untuk mengelola sumber daya air secara berkelanjutan.***

Scroll to Top