Ngopeni Ngelakoni

Ngopeni Ngelakoni

Gus Yasin Tegaskan Komitmen Jateng Lindungi Perempuan dan Anak, MoU dengan Pengadilan Tinggi Agama, Polda, dan 17 Stakeholder

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali menunjukkan komitmen dalam perlindungan perempuan dan anak. Ditunjukkan melalui Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Upaya Memberikan Perlindungan Perempuan dan Anak bersama Pengadilan Tinggi Agama Semarang, Polda Jateng dan 17 Stakeholder di Gedung Grhadika Bakti Praja, Kamis (22/05/2025). Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen (Gus Yasin) mengatakan, Provinsi Jawa Tengah memberikan perhatian yang sangat besar terhadap upaya perlindungan perempuan dan anak, dengan melalui Peraturan Daerah yang diterbitkan. Sejumlah Perda antara lain Perda Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, Perda Nomor 2 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan Perempuan, dan Perda Nomor 2 Tahun 2018 Tentang Ketahanan Keluarga. “Pemprov Jateng menyambut baik kesepakatan yang dilaksanakan tentang upaya perlindungan perempuan dan anak ini, masih banyak kasus yang belum terungkap di tengah masyarakat persoalan karena ada yang menganggap sebagai hal yang tabu untuk disampaikan,” urai Gus Yasin dalam sambutannya. Terbitnya Perda maupun dilaksanakannya MoU, kata Gus Yasin, belumlah cukup jika tidak mendapatkan dukungan semua pihak. Oleh karenanya, dia mengajak stakeholder dan pihak yang hadir dalam MoU tersebut untuk turun ke tengah masyarakat dan mendengarkan masalah perempuan dan anak hingga ke tingkat desa. Selama ini, banyak aksi terkait perlindungan perempuan dan anak, namun lebih banyak dilakukan oleh masyarakat perkotaan. Sedangkan, desa juga memiliki persoalan yang tidak kalah beragam dalam hal perlindungan perempuan dan anak. “Karena itu lah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki program Kecamatan Berdaya yang akan menjadi penggerak upaya perlindungan perempuan, anak, disabilitas dan lansia hingga tingkat desa dan kecamatan,” terang Gus Yasin. Dalam keterangannya seusai acara, Gus Yasin mengapresiasi MoU yang dilakukan sebagai bentuk upaya perlindungan perempuan dan anak di Jawa Tengah, sebagai upaya penunjang program pemerintah lima tahun mendatang. Melalui Program Kecamatan Berdaya, upaya tersebut dapat terwujud, termasuk dengan menggandeng stakeholder dan perguruan tinggi. “Tentu saja 17 stakeholder yang hadir dalam MoU ini akan terlibat, dan bahkan lebih luas lagi juga akan menggandeng 40 perguruan tinggi yang ada di Jawa Tengah untuk bersama-sama mewujudkan Kecamatan Berdaya,” tandasnya. Sementara itu, Ketua Pengadilan Tinggi Agama Semarang Dr Zulkarnain mengatakan, pengadilan tidak bisa melakukan eksekusi sendiri dalam hal realisasi putusan terhadap akibat perceraian yang berhubungan dengan perempuan dan anak. Penandatanganan MoU tersebut merupakan kelanjutan dari MoU yang sudah dilaksanakan sebelumnya, dan dirumuskan melalui aplikasi JamuKuat yang merupakan layanan informasi hukum pengadilan agama. Hakim Agung Kamar Agama Mahkamah Agung H Busra yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan, pihaknya berkomitmen meningkatkan akses perempuan dan anak, serta memastikan hak-haknya selama proses peradilan. Diakui jika perempuan dan anak adalah kaum rentan terhadap diskriminasi, sehingga pengadilan agama berperan penting dalam sistem peradilan inklusif. Selain Pemprov, Pengadilan Tinggi Agama, dan Polda 17 lembaga yang turut serta dalam penandatanganan tersebut yaitu, Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Kepala Kementrian Hukum, Kepala Kanwil BPN Jawa Tengah, Perwakilan Ombudsman RI Jawa Tengah, Ketua DPD MAPPI Jawa Tengah, EVP PT Pos Indonesia Regional IV Jateng dan DIY, Regional CEO PT Bank Syariah Indonesia Regional VII Semarang, Rektor Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Rektor Institut Agama Islam Negeri Kudus, Rektor UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang, dan Rektor Universitas Sultan Agung Semarang.***

Ngopeni Ngelakoni

Ning Nawal Acungi Jempol Posyandu Tulip, Pilot Project Pencanangan Posyandu 6 SPM

SEMARANG – Posyandu Tulip yang berada di wilayah RW 08 Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen Semarang, menjadi Posyandu pilot project dalam pencanangan Posyandu 6 Standar Pelayanan Minimum (SPM) di seluruh Provinsi Jawa Tengah. Ketua Tim Penggerak Posyandu Provinsi Jawa Tengah, Ny. Hj Nawal Arafah Yasin, dalam kunjungan lapangan mengapresiasi atensi kader Posyandu Tulip yang mendukung 6 SPM sebagaimana mandat Permendagri Nomor 13 Tahun 2024. Meski sudah menetapkan 6 SPM, Posyandu Tulip, masih memiliki lima meja. Meliputi meja Pendaftaran, Penimbangan dan pengukuran, Pencatatan, Penyuluhan, dan Pelayanan Kesehatan. Bahkan, Posyandu Tulip memiliki file yang berisi data Kesehatan keluarga mulai dari bapak sampai dengan anak-anaknya. “Posyandu Tulip sudah memiliki enam SPM, terdiri atas kesehatan, pendidikan, sosial, ketertiban umum, perlindungan masyarakat, hingga perumahan dan pemukiman. Menariknya, pendataan di Posyandu ini sangat lengkap, sampai-sampai ada gangguan ketertiban umum kera masuk kampung juga masuk dalam data Posyandu,” ujar Ning Nawal, panggilan akrabnya, usai melaksanakan kunjungan lapangan Posyandu Tulip RW 08 Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, Rabu (21/05/2025). Sebagai Posyandu yang sudah melaksanakan implementasi 6 SPM, Posyandu Tulip sangat layak untuk menjadi Posyandu percontohan di Jawa Tengah. Oleh karenanya, dalam rangka mendukung percepatan penerapan Posyandu 6 SPM di kabupaten/kota, pihaknya akan mendorong terbitnya Surat Edaran untuk percepatan di kabupaten/kota. “Setidaknya ada tiga Posyandu di setiap kabupaten/kota yang akan menjadi pilot project dan dilanjutkan dengan posyandu-posyandu yang lainnya,” ucap isteri Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) itu. Dalam sambutannya, Ning Nawal menyampaikan, tantangan Posyandu adalah keberhasilan diukur dengan indikator pengunjung. Selama ini tercatat hanya 60 – 70 persen masyarakat yang hadir ke Posyandu. Hal tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi agar masyarakat yang belum mengenal Posyandu, dapat lebih dekat dan mendukung layanan yang disediakan melalui Posyandu 6 SPM. Ketua TP Posyandu Kota Semarang, Listyati Iswar Aminuddin mengatakan, di Kota Semarang terdapat 1.642 Posyandu, yang semuanya adalah Posyandu aktif. Untuk merealisasikan Posyandu 6 SPM di 177 kelurahan, pihaknya akan bergandengan tangan dengan OPD. Sehingga tahun depan dapat terpenuhi semua wilayah memiliki Posyandu 6 SPM. “Saat ini ada tiga yang sudah menjadi percontohan, yaitu Posyandu Tulip di Kelurahan Cangkiran, Posyandu di Banyumanik, dan Posyandu di Ngaliyan,” urainya. Plt Lurah Cangkiran Ipang Filrandhi mengatakan, sejak Januari 2025, sudah ada 22 pengaduan masyarakat yang masuk ke Posyandu Tulip 6 SPM. Antara lain pengaduan soal Pendidikan (2 kasus terkait ijazah ditahan dan bantuan alat sekolah), Kesehatan (dua kasus suspect TB dan DBD), pekerjaan umum (5 kasus perbaikan fasum). Lalu perumahan rakyat (6 kasus RTLH), Tratibum (Kasus CCTV Rusak), serta sisanya tentang pengaduan bansos. “Masyarakat sangat antusias melaporkan peristiwa yang terjadi di lingkungannya,” terangnya. Bersamaan dengan kegiatan kunjungan tersebut, ratusan warga juga berkesempatan memperoleh layanan Cek Kesehatan Gratis. Juga stan pameran 6 SPM yang dihadirkan oleh kader Posyandu Tulip. Stan tersebut meliputi SPM Kesehatan. Yang terdiri dari Kukus Manis (Kunjungan Khusus Mewujudkan Masyarakat Semakin Sehat), Penyuluhan Kesehatan, Skrinning Kesehatan, Rujukan, Pemeriksaan Rutin, Hari Buka (Jemput Bola pada pertemuan remaja dan RT), serta Evaluasi Kepatuhan Imunisasi. Tersedia juga hotline 24 jam. Sedangkan pada SPM Trantibum Linmas, diterapkan rehabilitasi trauma pasca bencana, kesiagaan bencana, pencegahan gangguan trantibum, dan CCTV RT dan ronda malam. Sedangkan SPM Perumahan Rakyat melayani identifikasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Lingkungan bersih sehat, dan Kebun Gizi Subur Migunani. Sementara itu SPM Pekerjaan Umum, meliputi layanan pengelolaan bank sampah, pemerliharaan jaringan air. Pengecekan air bersih, rembug wargam dan inovasi pesta swarga. Pada SPM Sosial, layanan yang diberikan Posyandu Tulip antara lain, pendataan warga tidak mampu, penyaluran bantuan social,dan kesiapsiagaan bencana. Posyandu Tulip juga memiliki inovasi berupa Gerakan Serbu Bagor Mas (Seribu Rupiah Bantuan Gotong Royong Masyarakat), Pesta Swarga (Penanganan Stunting Swadaya Warga), Dapur B2SA, dan Kebun Gizi Migunani.***

Ngopeni Ngelakoni

Puluhan Kader PKK Dilatih Pemanfaatan Pekarangan, Nawal Tekankan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan

SEMARANG – Ketua TP PKK Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin (Ning Nawal) menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai kepala keluarga, melalui pelatihan dan pendampingan oleh kader. Untuk mendukung hal itu, sebanyak 70 orang pengurus TP PKK kabupaten/kota se-Jateng, mendapat pelatihan pemanfaatan pekarangan, melalui program “Aku Hatinya PKK” dan “Rabu Pon” atau Gerakan Ibu Menanam Pohon. Ning Nawal mengatakan, dua program ini tak sekadar menanami pekarangan. Namun, bagaimana tanaman yang disemai mempunyai nilai ekonomis tinggi. Misalnya, volatile food seperti cabai, kangkung, hingga rempah-rempah. Selain itu, dilatih pula teknik budidaya ikan dalam ember. Dari pelatihan ini, diharap kader PKK dapat menularkan ilmu kepada warga di sekitar melalui dasawisma (10 rumah) dan seterusnya. Nah, menanami pekarangan dengan berbagai kebutuhan dasar dapur, diharapkan akan meningkatkan ketahanan pangan keluarga. “Aku Hatinya PKK Ini penting untuk ketahanan pangan keluarga kita. Bagaimana pekarangan ini kita jadikan aset berharga, bagaimana bukan hanya tanaman, ada peternakan Budikdamber ada lele kangkung, itu bisa dilakukan,” tuturnya, seusai membuka acara di Wisma Jateng, Ungaran, Kabupaten Semarang, Selasa (20/5/2025). Di samping itu, ia juga menyinggung tentang pemberdayaan perempuan sebagai kepala keluarga. Pada konteks ini, ia menekankan ekonomi perempuan (single mother) yang harus menghidupi keluarga. Juga pada anak keluarga, di mana karena kondisi tertentu, meski masih berusia anak (di bawah 20 tahun), telah menjalin hubungan pernikahan dan belum mapan. Menurutnya, dua program tersebut (Aku Hatinya PKK dan Rabu PON) dapat disinergikan dengan program Kikis atau Keluarga Indonesia Bebas Kemiskinan Ekstrem. Melalui program itu single mother dan anak sebagai kepala keluarga, dilatih terkait pemberdayaan ekonomi. “Bukan hanya pemberdayaan ekonomi. Kemudian ada Aku Hatinya PKK, Rabu Pon itu bisa masuk di dalamnya. Rencananya inkubasi womenpreneur-nya,” imbuh Ning Nawal. Dalam kesempatan tersebut, Ning Nawal sekaligus membuka orientasi ketua kelompok kerja dan sekretaris TP PKK kabupaten/ kota seluruh Jawa Tengah yang berjumlah 175 orang. Melalui kegiatan itu, diharapkan dapat menyatukan visi agar program program Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga, dapat berjalan lancar. “Ini penguatan kelembagaan, tantangannya banyak kader baru. Jadi, diharapkan nanti bisa berkolaborasi, bisa saling menguatkan, untuk nantinya bisa melakukan kegiatan program-program dalam lima tahun mendatang,” pungkas Ning Nawal.***

Ngopeni Ngelakoni

Korban Banjir Tegowanu Lega Bisa Curhat dengan Taj Yasin

GROBOGAN – Korban banjir di Desa Sukorejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, lega bisa curhat kepada Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin. Mereka sudah tiga hari meninggalkan rumah dan menginap di pengungsian, yang berada di Desa Tanggirejo. Wagub meninjau langsung lokasi banjir. Dia menemui warga di posko pengungsian, dapur umum, hingga ke pemukiman yang masih tergenang air. Sugiati, warga Desa Sukorejo mengatakan, kunjungan wagub membuat warga senang, karena bisa meminta agar segera ada penanganan terhadap bencana banjir yang melanda. “Alhamdulillah senang. Kasihan kan para korban banjir yang sudah tiga hari di pengungsian,” katanya. Menurut Sugiati, pemerintah bergerak cepat untuk melakukan penanganan secara darurat. Warga korban dievakuasi ke tempat pengungsian. Selain itu langsung didirikan dapur umum sekaligus posko kesehatan. “Warga sudah tercukupi kebutuhan makannya. Ibu-ibu dibantu tim dari relawan, memasak untuk memenuhi kebutuhan makan,” lanjutnya. Sutipah, warga Desa Sukorejo lainnya menceritakan, banjir datang Sabtu (17/5/2025) malam akibat tanggul sungai jebol. Air yang masuk ke pemukiman membuat warga panik. “Waktu itu hujan deras dari sore sampai malam. Terus jam sembilan malam (pukul 21.00-an WIB) ada pengumuman banjir. Ya panik, dan akhirnya menyelamatkan barang-barang, seperti TV dan kasur,” ungkapnya. Selanjutnya, pemerintah setempat membantu evakuasi warga untuk ke posko pengungsian. “Air sempat surut, tapi ada air susulan dan sampai setinggi perut. Sampai sekarang harus mengungsi di sini,” imbuhnya. Aminah, warga Desa Sukorejo menambahkan, kehadiran Wakil Gubernur membuat warga lega. Diharapkan ada penanganan cepat untuk menanggulangi banjir. “Ya ini banjir paling parah, meskipun di sini sering banjir. Harapannya, segera ditangani,” harapnya. Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, akibat tanggung sungai jebol, ada satu satu desa terdiri dari enam dusun yang terdampak. Total ada 364 kepala keluarga yang menjadi korban. Hingga saat ini, tanggul jebol sudah dalam penanganan alat berat. Sementara, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin menuturkan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan BBWS dan kementerian terkait, untuk menanggulangi bencana banjir tersebut. Dengan segera akan menormalisasi sungai di Grobogan sampai Kudus. “Bukan hanya Grobogan, tapi sampai ke Kudus. Memang harus ada percepatan,” ujarnya. Gus Yasin, sapaan wagub, menegaskan akan segera menggunakan alat pompa, karena lokasi banjir berada di cekungan. Sehingga air sulit surut. “Kita pakai pompa. Nanti sore kita kirim lagi pompanya. Agar mereka bisa cepet pulang,” tuturnya. Ditambahkan, pihaknya sedang menghitung kebutuhan yang diperlukan, sekaligus memetakan titik-titik rawan. “Kita minta segera dan nanti kita koordinasikan dengan BBWS dan kementerian. Sehingga, kita bisa bersama-sama,” tandasnya. Dalam kesempatan itu, Gus Yasin menyalurkan bantuan uang kepada para korban senilai lebih dari Rp250 juta. Selain itu, membagikan mainan kepada anak-anak korban banjir.***

Ngopeni Ngelakoni

Setahun Tiga Kali Banjir di Grobogan, Wagub: Segera BBWS Lakukan Normalisasi Sungai

GROBOGAN – Banjir langganan yang kembali melanda wilayah Desa Tanggirejo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) menegaskan agar normalisasi segera dilakukan selain penanganan komprehensif dari hulu hingga hilir. Sebab selama satu tahun terakhir, banjir tercatat telah terjadi tiga kali di wilayah tersebut. “(Menurut warga) kalau hujan turun seharusnya air dari hulu baru sampai ke desa ini dalam waktu tujuh jam. Tapi sekarang hanya dua jam sudah banjir. Ini menunjukkan ada kerusakan lingkungan di bagian atas yang harus segera dibenahi,” ujar Gus Yasin saat melakukan kunjungan lapangan ke Desa Tanggirejo, Tegowanu, Grobogan, Rabu, 21 Mei 2025. Di lokasi tanggul jebol yang berjarak 400 meter dari pengungsian, Gus Yasin menyoroti pentingnya penguatan tanggul-tanggul kritis dan normalisasi sungai. Ia juga menekankan perlunya penanaman kembali pohon besar di hulu serta pelibatan masyarakat dalam menjaga bantaran sungai. “Bantaran sungai jangan dijadikan lahan pertanian. Kalau menanam pisang atau ketela di sana, saat banjir datang, semua hanyut jadi sampah dan memperparah kondisi,” tegasnya. Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui BPBD telah menyiagakan empat pompa air di lokasi banjir. Untuk jangka panjang, Pemprov tengah mengkaji pemasangan sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) agar warga bisa lebih waspada terhadap potensi banjir berikutnya. “Kita tidak bisa hanya menunggu air surut. Kalau bisa, kita cari tambahan pompa lagi agar warga cepat pulang ke rumah masing-masing,” ujar putra kyai kharismatik Mbah Maimoen Zubaer itu. Ia menambahkan, Pemprov akan berkoordinasi dengan Pemda untuk membantu BBWS memetakan Daerah Aliran Sungai mana yang perlu segera dinormalisasi. “Kalau bisa dibantu bareng-bareng, akan lebih cepat. Kita hitung mana yang perlu dinormalisasi, mana yang bisa dikerjakan bersama. Prinsipnya gotong royong,” ujarnya. Selain itu, Gus Yasin juga mengajak masyarakat di daerah hulu untuk ikut berperan aktif. Salah satunya dengan menanam pohon agar air tidak langsung mengalir deras ke wilayah bawah. Gus Yasin juga sempat meninjau dapur umum yang dikelola relawan Tagana dan dibantu TNI/Polri. Ia mengecek proses memasak dan ketersediaan bahan pokok, serta memberi semangat kepada para relawan. “Terima kasih sudah melayani dengan sepenuh hati. Pastikan makanan yang disajikan bergizi dan bersih, jangan makanan instan terus,” pesannya.•••

Ngopeni Ngelakoni

Cerita Korban Banjir Grobogan Dijenguk Taj Yasin. “Senang Sekali, Mau Nengok Pengunsi”

GROBOGAN – Sudah lima hari Harjoko dan keluarganya mengungsi di GOR Tanggirejo yang kini difungsikan sebagai posko pengungsian darurat. Banjir besar yang datang tiba-tiba pada Jumat sore lalu membuat Harjoko bersama istri, anak-anak, menantu, dan cucunya terpaksa meninggalkan rumah sejak Sabtu, 17 Mei lalu. “Saya di sini dari hari Sabtu,” kata Harjoko saat bertemu Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, Rabu, 21 Mei 2025. Beruntungnya, pos kesehatan yang tersedia di lokasi juga membuat para pengungsi setidak-tidaknya merasa tenang. “Pelayanannya bagus, cek kesehatan ada, saya sering minta dicek. Setiap waktu makan juga nggak telat. Tiga kali sehari terpenuhi,” imbuhnya. Harjoko dan keluarganya juga menceritakan tentang kondisi tanggul yang jebol serta harapan agar penanganan bisa dilakukan secepatnya. Fatikhah, salah satu pengungsi perempuan, tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya saat bertemu langsung dengan Wagub Jateng. “Seneng banget bisa dikunjungi. Di tengah waktunya yang sibuk, bisa menengok kita,” ujarnya dengan mata berbinar. Pun dirasakan Parmi, wanita paruh baya yang tengah duduk di depan rumahnya yang masih tergenang air setinggi sekitar 50 sentimeter. Matanya berkaca-kaca saat menceritakan evakuasi menggunakan kapal dan rasa was-was ingin kembali ke rumah. “Banjirnya sedada. Kemarin dievakuasi pakai kapal. Dari hari Sabtu saya sudah ngungsi. Ini baru pulang mau cek rumah, tapi masih nggak berani masuk. Semua barang-barang pada jatuh,” katanya lirih. Cerita-cerita itu sampai ke telinga Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, yang meninjau langsung lokasi pengungsian dan rumah-rumah terdampak banjir. Wagub sampai ndeprok (duduk di tanah) bersama pengungsi. Menyatu dan mendekat. Berdialog. Menanyakan kondisi kesehatan pasca banjir dan lainya. Suasana semakin hangat ketika Wagub Taj Yasin membagikan mainan untuk anak-anak di pengungsian. Sesekali juga menggendong bocah. Mendekap dan mengusap kepalanya. Sebelum berpamitan, Yasin berpesan agar warga menjaga kesehatan dan tabah dalam menghadapi musibah ini. “Sehat-sehat semuanya, ya. InsyaAllah segera surut dan kami akan upayakan penanganan dipercepat,” kata Taj Yasin kepada warga. Dalam kesempatan tersebut, Wagub Taj Yasin juga menyerahkan bantuan senilai Rp253.460.208 (Rp 253 juta) ,- yang bersumber dari Dinas Sosial, BPBD, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Kesehatan. Bantuan ini mencakup logistik, sembako, beras satu ton, dan pasokan obat-obatan. Laporan terkini menyebutkan, jumlah pengungsi terdampak banjir di Kabupaten Grobogan mencapai 274 jiwa, mayoritas terdiri dari lansia, ibu-ibu, dan anak-anak. Banjir di Grobogan mulai terjadi sejak Jumat 16 Mei malam akibat luapan sungai dan hujan ekstrem yang terus mengguyur. Belasan desa tersebar di beberapa kecamatan terdampak. Antara lain Kecamatan Tegowanu (Desa Sukorejo, Tanggirejo, Medani), Tanggungharjo (Desa Sugihmanik), Gubug (Desa Penadaran), Godong (Desa Tungu, Latak, Manggarmas, Harjowinangun), Karangrayung (Desa Termas, Putatnganten, Temurejo). Serta dilaporkan pula banjir di Kecamatan Kedungjati (Desa Padas) dan Kradenan (Desa Kuwu). Ketinggian air mencapai 50–150 cm di area terdampak; di Desa Sukorejo (Tegowanu) ketinggian banjir masih sekitar 0,5–1,5 meter hingga Selasa pagi 20 Mei.***

Ngopeni Ngelakoni

Wagub Jateng Dorong Investasi di Jateng Miliki Regulasi Ramah Muslim

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) mendorong optimalisasi investasi di Provinsi Jawa Tengah memiliki regulasi ramah muslim, seperti pada bidang pariwisata, hingga industri padat karya. Dia mencontohkan, pada bidang pariwisata seperti restoran/perhotelan bisa memberi layanan informasi makanan halal (halal food), dan (non halal). Metode seperti ini, kata Taj Yasin, telah diterapkan di sejumlah negara yang memberikan layanan pariwisata ramah muslim. “Kalau di Indonesia bisa dijelaskan (informasi) non halal corner. Supaya jelas terkait pariwisata ramah muslim. Kalau di food court ada non halal corner, maka supaya jelas regulasinya,” kata dia saat menyampaikan arahan pada pertemuan evaluasi kinerja Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) 2024 Provinsi Jateng, di Kompleks Kantor Gubernur Jateng, Kota Semarang, Rabu, 14 Mei 2025. Begitupun juga, pada sektor hiburan yang masih terkait dengan pariwisata. Gus Yasin mencontohkan, usaha karaoke, hingga berniaga minuman beralkohol supaya tidak berada di tengah perkampungan yang memicu pro- kontra masyarakat. Lebih dari itu, pengusaha juga tidak menempatkan atau display minuman beralkohol yang mencolok terlihat dari luar. Kemudian pada sektor industri padat karya, Gus Yasin mengaku mendapati masukan terkait fasilitas umum (fasum) tempat ibadah yang belum memadai secara kuantitas tampungannya. Pada akhirnya para pekerja harus antre dalam beribadah, sehingga memicu keterlambatan kembali masuk bekerja. “Permasalahan lanjutannya yang saat ini muncul yakni pemotongan gaji atau denda. Setelah saya diskusi dengan berbagai pihak, salah satu faktornya ketika istirahat siang. Karyawan muslim tidak hanya menggunakan waktu istirahat untuk makan, akan tetapi juga beribadah salat zuhur,” kata sosok pria asal Kabupaten Rembang tersebut. Gus Yasin menekankan, bila karyawan sudah memenuhi kewajibannya dalam bekerja maka harus dipenuhi hak-haknya termasuk untuk beribadah. Untuk itu, pemerintah termasuk kabupaten/kota harus teliti dalam menerbitkan izin mendirikan bangunan (IMB) perusahaan. “Kalau fasilitas umum terpenuhi baru diterbitkan IMB. Itu arahannya dari Pemprov Jateng,” kata dia. Lebih lanjut, diakui Gus Yasin, dalam metode perizinan investasi salah satunya menggunakan Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik yang terpusat yakni Online Single Submission (OSS). Akan tetapi, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) bisa disiplin verifikasi dan validasi dalam menerbitkan izin usaha di Jateng. “Jadi memang sebagai pemerintah provinsi mengikuti aturan yang ada di pemerintah pusat dengan diberlakukan perizinan daring Online Single Submission (OSS). Nah untuk menuju ramah muslim ini kan butuh verifikasi validasi. Sebetulnya di Pemprov Jateng sudah sesuai aturan, akan tetapi memang perlu adanya verifikasi, validasi. Kewenangan kami untuk menata itu. Sehingga kalaupun izin itu muncul secara sistematis, otomatis, maka bisa kita tahan dulu,” ujar dia. Gus Yasin itu kemudian mendorong optimalisasi investasi dengan diskusi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yang dipimpin DPMPTSP. Selain kemudahan investasi, diharapkan dalam menerbitkan izin usaha harus juga melihat aspek kebutuhan dan kondisi lingkungan serta sosial masyarakat. “Kita bisa lakukan verifikasi-verifikasi, tentu banyak hal yang disiapkan termasuk regulasinya bagaimana?” ucapnya. Sebagai informasi, Kepala DPMPTSP Jateng, Sakina Rosellasari, mengatakan, kinerja investasi di Jateng pada triwulan I 2025 Rp21,85 triliun. Rinciannya, penanaman modal asing (PMA) sebanyak 64% pada angka Rp14,08 triliun. Kemudian penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebanyak 36% senilai Rp7,7 triliun. Dari realisasi tersebut, dicatat penyerapan tenaga kerja mencapai 97.550 orang, serta penambahan jumlah proyek 20.431. Adapun lima besar realisasi sektor investasi di Jateng, mulai dari industri tekstil (Rp2,66 triliun), industry barang dari kulit dan alas kaki (Rp2,51 triliun), industry karet dan plastik (Rp2,45 triliun), industri makanan (Rp1,97 triliun), serta perumahan, dan Kawasan industry perkantoran (Rp1,83 triliun).***

Ngopeni Ngelakoni

Hibah Jateng Rp 125,5 miliar, Taj Yasin: Harus Berdampak Nyata

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin mengingatkan seluruh organisasi kemasyarakatan penerima dana hibah, untuk menggunakannya secara bertanggung jawab dan berdampak langsung bagi masyarakat. Hal itu disampaikan dalam acara Pemantapan Integritas dan Akuntabilitas dalam Penggunaan Dana Hibah Bagi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) di Gradhika Bhakti Praja, Selasa, 20 Mei 2025. “Dana hibah ini merupakan bagian dari APBD yang setiap tahun kami alokasikan untuk merangkul organisasi-organisasi kemasyarakatan di Jawa Tengah. Jangan sampai hanya menjadi formalitas, tapi benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” katanya. Tahun ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengalokasikan anggaran hibah sebesar Rp125,2 miliar untuk 1.248 ormas. Hingga pertengahan Mei, telah tersalurkan sebanyak 44,32% lebih atau sekitar Rp55,5 miliar kepada 567 ormas. Adapun kegiatan ini diikuti secara daring dan luring oleh 968 ormas, dengan 200 orang hadir secara langsung. Taj Yasin menekankan pembangunan di Jawa Tengah tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Untuk itu, ormas dinilai sebagai mitra penting, terutama dalam menjaga kerukunan umat beragama, antar suku, serta menjaga suasana yang aman dan damai. “Sampai saat ini tercatat ada 20.044 ormas berbadan hukum di Jawa Tengah yang telah didaftarkan di Kesbangpol. Terima kasih kepada yang sudah terdata, sehingga kita bisa menyalurkan bantuan ini,” ujarnya. Ia berharap ormas menjadi bagian dari kekuatan sosial-politik yang bisa menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pemerintah. Sekaligus menjadi corong pemerintah dalam menyosialisasikan program-program “Ormas bisa mengkritisi pembangunan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Kami ingin ormas di Jateng menjadi organisasi yang sehat, mulai dari bidang pendidikan, disabilitas, perempuan, hingga ekonomi,” tambahnya. Taj Yasin juga berharap hibah yang diberikan, dapat digunakan untuk membantu Pemprov dalam mengimplementasikan program lain yang menyasar langsung ke masyarakat. Seperti Kecamatan Berdaya yang di dalamnya terdapat pelatihan paralegal dan pendampingan sosial lainnya. Taj Yasin juga menyampaikan kekhawatirannya terkait isu-isu digital yang marak di masyarakat. Seperti pinjaman online ilegal, penipuan daring, dan judi online. Ia mengajak ormas untuk ikut menyuarakan edukasi digital. “Kami sudah bentuk Satgas Pasti bersama OJK, perbankan, TNI, kepolisian, dan unsur masyarakat. Kalau ada korban pinjol, penipuan, laporkan saja, mekanismenya sudah ada,” tegasnya. Acara ini turut dihadiri Plt Kepala Badan Kesbangpol Agung Hikmadi, Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Jateng DR Lucas Alexander Sinuraya, Wadirreskrimsus Polda Jateng AKBP Feria Kirnkawan, serta Analis KPK RI Rommy Iman Sulaiman yang hadir secara daring. Sebagai simbolis, Pemprov menyerahkan bantuan kepada 10 ormas, di antaranya Yayasan Islam Manbaul Ulum Pandanharum, PGSI Kabupaten Grobogan, hingga Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Tengah.***

Ngopeni Ngelakoni

Taj Yasin Usulkan Pembinaan Lewat Pendidikan Karakter untuk Atasi Anak-Anak Terlibat Gangster

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen prihatin atas keterlibatan anak di bawah umur dalam kasus gangster. Untuk mengatasinya, ia berpandangan, perlu dilakukan pembinaan berbasis karakter. “Kenakalan remaja ini masih timbul-tenggelam, kumat-kumatan. Dan yang sekarang muncul ini, banyak anak di bawah usia yang hanya ikut-ikutan,” ungkap Taj Yasin saat acara Halal Bihalal dan Harlah ke-79 Muslimat NU Kota Semarang, Sabtu, 17 Mei 2025. Sebagai solusi, Taj Yasin menggagas pendekatan berbasis pendidikan karakter. Ia menyebut, jika pendekatan kreatif tak lagi mempan, anak-anak tersebut bisa difasilitasi untuk belajar di pesantren atau boarding school. Bahkan, di Provinsi Jawa Tengah ini sedang dijalankan program Kecamatan Berdaya. Program ini tidak hanya menyasar perempuan, anak, dan penyandang disabilitas, tapi juga mencakup anak-anak zilenial. Menurut Taj Yasin, program Kecamatan Berdaya bisa menjadi pintu masuk untuk menjangkau mereka, dengan membentuk karakter yang lebih baik melalui kegiatan positif, berbasis komunitas. “Sekarang ini banyak kasus gangster yang pelakunya anak-anak muda, generasi zilenial. Kenapa mereka tidak kita arahkan ke kegiatan yang lebih kreatif dan positif saja?” ucapnya. Kalaupun anak-anak tersebut masih sulit ditangani, pihaknya bisa bekerja sama  dengan organisasi masyarakat seperti Muslimat, Aisyiyah, atau pondok pesantren untuk memberikan edukasi. “Kita fasilitasi mereka ke pesantren (atau boarding school), bukan sekadar untuk disiplin, tapi juga agar mereka paham nilai-nilai keagamaan, apapun agamanya,” jelasnya. Taj Yasin juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas organisasi dalam upaya membina generasi muda dan menjaga ketahanan sosial masyarakat. “Kami rangkul semua elemen, termasuk Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, Aisyiyah, semua kami beri ruang,” pungkasnya.***

Ngopeni Ngelakoni

Wagub Jateng Persilahkan Masyarakat Gunakan Gedung Pemprov untuk Kegiatan Publik

SEMARANG – Komitmen Pemprov Jateng untuk menjadikan kantor pemerintahan sebagai rumah rakyat kembali ditegaskan. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) membuka akses bagi masyarakat untuk memanfaatkan gedung-gedung milik pemprov sebagai ruang kegiatan publik. Hal itu disampaikan saat menghadiri acara Halal Bihalal dan Hari Lahir ke-79 Muslimat NU Kota Semarang di Gradhika Bhakti Praja, Sabtu, 17 Mei 2025. “Siapa saja bisa menggunakan gedung ini untuk kegiatan-kegiatan seperti Muslimat. Nanti juga Fatayat boleh. IPNU, IPPNU juga,” ujar Yasin dalam sambutannya. Ia menyebut alternatif gedung lain seperti Wisma Perdamaian juga tersedia. Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Rumah Rakyat yang dicanangkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Sejak awal Mei 2025, Kantor Gubernur resmi dibuka sebagai ruang aspirasi publik, baik secara luring maupun daring. Di sisi lain, Gus Yasin menegaskan Pemprov Jateng telah menjalin kerja sama dengan organisasi-organisasi keagamaan seperti PWNU, Muslimat NU, Fatayat, Aisyiyah, hingga Ormas non muslim. “Artinya seluruh organisasi keagamaan kita rangkul bersama-sama,” kata Gus Yasin. Ia menambahkan, keterbukaan ini juga akan mendukung program Kecamatan Berdaya, yang terintegrasi dengan Rumah Perlindungan bagi kelompok rentan di mana terdapat paralegal, dan ruang ekspresi generasi muda. Ketua PC Muslimat NU Kota Semarang, Muslimatin Djatmiko, menyampaikan apresiasinya. “Terima kasih kepada Wakil Gubernur yang telah memberikan ruang ini kepada kami untuk merayakan harlah. Ini tandanya bahwa Gus Yasin cinta Muslimat,” ujarnya. Dalam acara tersebut, Wagub Taj Yasin didampingi istrinya sekaligus Ketua TP PKK Jateng Nawal Arafah Yasin. Hadir pula Ketua PC NU Kota Semarang, Anasom dan perwakilan organisasi NU serta Muhammadiyah.***

Scroll to Top