Ngopeni Ngelakoni

Ngopeni Ngelakoni

Soal Pansus Pemakzulan Bupati Pati, Wagub Jateng Minta Sudewo tetap ke Kantor agar Pemerintahan tetap Berjalan

JAKARTA – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin) , mengatakan, Pemerintah provinsi Jateng terus mencermati jalannya Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, dalam proses pemakzulan Bupati Pati, Sudewo. “Kalau kami di pemerintahan ini kita mendampingi ya. Kita mengawal apapun hasil dari produk dari DPRD Kabupaten Pati. Pansus ini harus kita hormati dan, saya senang karena ini (sifatnya) terbuka,” katanya, di sela-sela kunjungan kerjanya di Jakarta Pusat, Rabu, 20 Agustus, 2025. Dengan begitu, kata dia, siapa saja boleh melihat bagaimana proses perkembangannya. Serta poin-poin aspirasi apa saja yang disampaikan oleh masyarakat ke DPRD Kabupaten Pati. Akan tetapi, kata Taj Yasin, yang tak kalah penting proses pelayanan dalam pemerintahan haruslah tetap berjalan. Masyarakat Kabupaten Pati serta pemerintah kabupaten setempat diharapkan bisa menyadari hal tersebut. “Sebenarnya saya berharap fokusnya di sini, biar pemerintahannya bisa berjalan. Kenapa? Karena banyak yang harus diurus, harus dilayani, enggak boleh berhenti pemerintahannya. Itu yang kita harapkan,” kata pria asal Kabupaten Rembang tersebut. Pun dengan Bupati Pati, Sudewo, diharapkan juga agar menjalankan aktivitas pemerintahannya. Supaya pemerintaha dan proses pelayanan publik berjalan baik. “Iya, tetap harus ngantor, semuanya. Kemarin saya (upacara) 17 Agustus kesana juga dalam rangka itu untuk memberikan semangat. Kamu enggak boleh berhenti ya. Permasalahan ini biar berjalan, pemerintah pelayanan harus berjalan,” kata Taj Yasin. Lebih lanjut, Taj Yasin mengaku belum mengetahui terkait beredarnya informasi pemguntitan orang tak dikenal terhadap Ketua Pansus Hak Angket DPRD) Pati, Teguh Bandang Waluyo, dalam proses pemakzulan Bupati Pati, Sudewo. “Saya belum tahu, enggak ada masalah,” katanya.***

Ngopeni Ngelakoni

UMKM Binaan Dekranasda Ramaikan Hari Jadi ke-80 Jateng, Nawal Yasin: Bukan Sekadar Pameran

SEMARANG – Berbagai produk UMKM dan kerajinan tangan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Tengah (Jateng) serta Dekranasda 35 kabupaten/kota se-Jateng, dipamerkan di Halaman Kantor Gubernur Jateng. Pameran tersebut berlangsung pada 20-22 Agustus 2025. Adapun event itu menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut, ratusan stan berjajar rapi dan memamerkan beragam produk UMKM lokal. Mulai dari busana, kuliner, makanan ringan, aksesoris, dan produk-produk kerajinan tangan lainnya. Kegiatan itu diharapkan bukan sekadar pameran yang sifatnya seremonial saja. Tetapi sebagai ajang promosi kepada para buyer, yang akan didatangkan secara khusus. Sehingga, dalam kegiatan ini ada transaksi rupiah dari produk-produk UMKM tersebut. Ketua Dekranasda Jateng Nawal Arafah Yasin mengatakan, pada pameran kali ini, pihaknya menampilkan produk-produk UMKM binaan dari 35 kabupaten/kota, yang memiliki potensi dan keunggulan sesuai daerah masing-masing. “Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian dari Hari Jadi ke-80 Jawa Tengah. Kita menampilkan beberapa UMKM, dan kita juga melibatkan dari 35 kabupaten/ kota. Di sini potensinya luar biasa,” katanya, seusai pembukaan pameran UMKM, Rabu (20/8/2025). Dia mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar pameran, tetapi juga ada business matching, yang mempertemukan pengrajin UMKM dengan buyer. Sehingga, potensi yang dimiliki produk-produk lokal langsung bisa menemui pasar. “Harapannya ini bukan hanya pameran, tapi kemudian ini ada business matching. Buyer-buyer kita datangkan untuk bisa melihat protensi dari produk-produk UMKM dari 35 kabupaten/ kota ini,” ucap Nawal. Pada kesempatan itu, Ning Nawal sapaan akrabnya, mengunjungi beberapa stan Dekranasda kabupaten/ kota, serta melihat produk-produk yang dipamerkan. Menurut dia, setiap produk merepresentasikan kearifan lokal, serta potensi dari masing-masing daerah. “Produk yang ditampilkan di antaranya ada batik, seperti kain wastra, ini juga sesuai dengan kearifan dan potensi dari daerah masing-masing. Ada tenun Jepara, ada batik Batang, dan lain-lain,” ucap istri Wakil Gubernur Jateng tersebut. Lebih lanjut, pihaknya terus mengupayakan pendampingan pengrajin lokal, salah satunya melalui promosi dan pameran secara berkelanjutan, supaya semakin dilirik pasar. Upaya itu juga melibatkan sejumlah stakeholder, seperti Baznas dan BI Jateng. “Event-event seperti ini menjadi salah satu strategi, untuk memasarkan lebih luas produk-produk UMKM dari Jawa Tengah,” ungkap Nawal Yasin. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Jawa Tengah, Eddy S Bramiyanto mengatakan, event pameran dalam rangka peringatan Hari Jadi ke-80 Jateng ini diikuti oleh sebanyak 228 stan yang telah dikelompokkan secara tematik. Terdiri dari 30 stan Kampung Halal BUMD, 35 stan Kampung Dekranasda Expo, 50 stan Kampung Kuliner dan Jamu, 77 stan Kampung Program, 16 stan Kampung Nostalgia Era 70-an, 20 stan Kampung UMKM Milenial Bank Jateng, serta ada pula enam unit mobil pelayanan dari OPD teknis. Dikatakan, sebagaimana tema yang diusung pada peringatan Hari Jadi tahun ini, yakni “Jateng 80, Jateng Mapan dan Tumbuh”, pameran ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya melalui sektor UMKM. “Kami harapkan kegiatan ini bisa menjadi momentum strategis dalam mendukung perekonomian daerah, khususnya sektor UMKM,” harap Bram, sapaan akrabnya. Pada pameran tersebut, Dekranasda Kabupaten Pati sebagai salah satu peserta, turut memamerkan produk UMKM-nya. Salah satu produk yang diunggulkan ialah batik gading, yang dibuat pengrajin asal Kecamatan Gembong. Selain itu ada tape, makanan tradisional berbahan singkong yang dibuat melalui proses fermentasi. Kemudian ada keripik, rengginang, dan beberapa produk makanan ringan lainnya. “Ini semua adalah milik UMKM kita sendiri. Harapan kami ke depannya selalu ada event-event seperti ini, karena sangat mendukung produk Dekranasda Pati,” ungkap anggota Dekranasda Kabupaten Pati, Willy Sofia.***

Ngopeni Ngelakoni

Produk Halal, Jamu, hingga Nostalgia Layar Tancap, Meriahkan Bazar Hari Jadi ke-80 Jateng

SEMARANG – Sebanyak 228 stan UMKM, BUMD, OPD, dan Dekranasda, ikut serta dalam bazar memeriahkan hari jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah, 20-22 Agustus 2025. Tergelar di sepanjang halaman kantor gubernur hingga DPRD Jateng, ajang itu tidak sekadar menawarkan berbagai produk berkualitas, juga aneka jamu serta memori tahun 1970-an. Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengatakan, bazar kali ini bukan sekadar jualan produk. Harapannya, kegiatan itu dapat mempromosikan produk UMKM, yang pada muaranya akan mendorong perekonomian warga. “Kegiatan hari ini adalah salah satu yang kita lakukan untuk memfasilitasi teman-teman UMKM, untuk bisa menampilkan, memamerkan produknya, supaya dikenal masyarakat. Tentu saja pameran ini harapan kita adalah produknya dikenal, juga terjadi transaksi,” ucapnya, saat pembukaan bazar, yang dihadiri pula oleh Ketua TP PKK Jateng Nawal Nur Arafah, Ketua Dharma Wanita Persatuan Jateng Indah Sumarno, Ketua Komisi B DPRD Jateng Hartini, Ketua MUI Jateng Ahmad Darodji, dan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng Andi Reina, serta unsur Forkopimda Jateng. Mengusung konsep Kampung, 228 stan pameran yang berpartisipasi terdiri dari, 30 stan Kampung Halal BUMD, 35 stan Kampung Dekranasda Expo, 50 stan Kampung Kuliner dan Jamu, 77 stan Kampung Program, 16 stan Kampung Nostalgia era 70-an, 20 stan Kampung UMKM Milenial Bank Jateng, dan 6 unit mobil pelayanan dari OPD teknis. Sumarno menambahkan, pada HUT ke-80 Jateng, mengusung jargon “Mapan dan Tumbuh”. Kata itu dipilih, karena pada kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen, sangat berpihak pada sektor investasi. Menurutnya, investasi akan datang pada wilayah yang memiliki iklim kondusif, baik dari segi keamanan maupun sosial. “Bahwa situasi kondusiviitas wilayah, ketentraman, ketertiban itu menjadi kunci untuk kita bisa tumbuh,” imbuhnya. Kepala Dinas UKM dan Koperasi (DinkopUKM) Jateng Eddy S Bramiyanto mengatakan, ajang itu merupakan momentum kebangkitan ekonomi daerah, serta promosi potensi unggulan Jawa Tengah. Ia menargetkan ajang tersebut mampu mencatatkan transaksi lebih dari setengah miliar. “Pameran tahun sebelumnya, pada peringatan Hari Jadi ke-79 tahun 2024, tercatat omzet penjualan sebesar Rp506 juta. Harapannya di tahun ini angkanya melebihi dari omzet penjualan tahun lalu,” tuturnya. Oleh karenanya, pria yang akrab disapa Bram ini mengundang seluruh warga Jateng yang berada di Semarang, agar menyambangi ajang tersebut. “Ada jamu, makanan-makanan jadul (zaman dahulu) sampai yang kangen film jadul seperti Jaka Sembung, akan disetel di Kampung Nostalgia. Lengkap,” pungkas Eddy.***

Ngopeni Ngelakoni

Pemprov Jateng Terima Penghargaan Industri Hijau, Wagub: Modal Jawa Tengah Gaet Investor

JAKARTA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah (Jateng), menerima penghargaan The 2nd Annual Indonesia Green Industry Summit (AIGIS) nomor tiga, Kategori Pemerintah Daerah dengan Implementasi Industri Hijau Terbaik tahun 2024. Penghargaan diterima Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen, di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta Pusat, Rabu, 20 Agustus 2025. Usai menerima penghargaan, Taj Yasin mengatakan, hasil itu menjadi modal kepercayaan dalam menggaet investor baik dari dalam dan luar negeri ke Jawa Tengah. Dia ingin komitmen pemerintah provinsi dan pelaku usaha untuk bersama-sama tumbuh, membangun Jateng yang ramah terhadap lingkungan. “Nah, ini yang betul-betul didorong. Tidak hanya berbicara industrinya saja, kami juga memberikan contoh di sebagian kantor pemerintahan kami sudah pakai contoh panel surya. Untuk apa? mengajak investor yang menanamkan modal di Jawa Tengah ini benar-benar memperhatikan hal ini (industri hijau),” katanya. Gus Yasin, sapaan akrab Wakil Gubernur Jateng, mengatakan, adanya forum industri hijau tersebut linear untuk target pertumbuhan ekonomi yang ada di Indonesia. Terlebih, kata dia, Jateng sedang fokus mendatangkan investor baik dari dalam dan luar negeri. Sejumlah kawasan industri strategis telah hadir Jateng, seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, KEK Kendal, dan lainnya. Pemprov Jateng juga ingin menggarap potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan, di wilayah pantai selatan (Pansela) menjadi agroindustri. “Jateng juga bekerjasama menjadi sister province (kerjasama provinsi antar negara) dengan Malaka (Malaysia), dan Fujian (China). Kita mengajak mereka untuk berinvestasi di Jawa Tengah. Tetapi kita harus apa? Memperhatikan terhadap implementasi industri hijau,” ucap Taj Yasin. Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita yang hadir di acara itu mengatakan, peran pemerintah daerah (pemda) penting dalam melakukan manajemen pengelolaan limbah/sampah (waste management). Termasuk yang terpenting pengumpulan limbah/sampah (waste collection). “Kita mulai dengan cerita tentang mimpi yang akan wujudkan bersama-sama. Mewariskan kepada generasi penerus sebuah masa depan yang sehat dimulai dari lingkungan,” katanya. Dia mengatakan, forum yang juga diikuti pelaku industri dan ekonomi hijau, merupakan upaya perwujudan komitmen menuju ekosistem industri nasional yang memiliki daya saing berkelanjutan dan berkontribusi terhadap net zero emission pada tahun 2060 atau lebih cepat pada 2050. Dikatakan Agus Gumiwang, sektor industri telah menjadi penopang utama perekonomian nasional. Gambarannya, sektor manufaktur berkontribusi strategis pada kinerja produk domestik bruto (PDB) nasional. Di mana pada triwulan II tahun 2025 kontribusinya mencapai 16,92%. Naik dibandingkan triwulan yang sama tahun 2024 yang tercatat 16,72%. Sektor industri manufaktur juga tumbuh 5,60% year on year pada triwulan II tahun 2025 dan melampaui pertumbuhan ekonomi nasional pada angka 5,12%. Sedangkan kinerja ekspor industri manufaktur pada semester I tahun 2025 tercatat pada angka 107,6 atau setara 83% total ekspor nasional. Agus Gumiwang menambahkan, pada periode yang sama pula sektor industri pengolahan nonmigas juga berperan sebagai penyerap tenaga kerja strategis. Jumlah tenaga kerja tercatat lebih dari 19,60 juta orang. Akan tetapi, lanjutnya, industri manufaktur tentu juga menghadapi tantangan yang cukup berat. Tantangan tersebut tentu banyak kaitannya dengan geopolitik dengan geoekonomi. “Salah satunya termasuk tuntutan global, tuntutan dari pasar untuk yang menuntut setiap produk dihasilkan dari upaya menurunkan emisi gas rumah kaca. Tuntutan transisi menuju energi bersih nuga tuntutan untuk menjaga daya saing produk industri di pasar global,” ucapnya. Dia menggarisbawahi, transformasi menuju industri hijau itu tidak boleh dianggap sebagai biaya penveluaran (cost), melainkan menjadi sebuah investasi. Oleh sebab itu, pemerintah harus hadir untuk mewujudkan upaya tersebut meskipun tidaklah mudah. Kata Agus Gumiwang, transformasi menuju industri hijau dipengaruhi oleh empat faktor utama. Pertama yaitu tuntutan dari pasar global, konsumen yang semakin selektif terhadap produk-produk ramah lingkungan dengan jejak karbon yang transparan dan juga nilai-nilai keberlanjutan yang jelas. Kedua, yaitu pembiayaan hijau di mana lembaga keuangan nasional maupun internasional memprioritaskan proyek-proyek berlandaskan environment, social, and good governance (ESG). Itu membuka peluang untuk semakin inovatif. Ketiga, mempersiapkan regulasi dengan kebijakan pemerintah. Ini dimulai dan dengan mendesain peta jalan dekarbonisasi. Kemudian juga menyiapkan menyiapkan insentif fiskal, kemudahan investasi dan juga regulasi efisiensi sumber daya yang memberi arah transformasi industri menuju praktik-praktik yang berkelanjutan. “Yang keempat, mau tidak mau kita bagian dari komunitas global, kita dihadapi terhadap mekanisme perdagangan global,” katanya. Agus Gumiwang juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama meninggalkan pikiran kuno dalam pandangan yang selalu membentur-benturkan antara kepentingan pertumbuhan ekonomi dan menjaga lingkungan hidup yang sehat. Menurutnya, transformasi menuju industri hijau adalah perjalanan panjang yang membutuhkan visi, inovasi dan kolaborasi. Pelaku industri diajak untuk melihat agenda dekarbonisasi. Mulai dari efisiensi energi, memanfaatkan energi terbarukan, inovasi teknologi, serta penerapan prinsip ekonomi sirkular. “Ini bukan hanya sebagai beban, akan tetapi harus dilihat sebagai peluang emas untuk meningkatkan daya saing pasar global, mendukung pertumbuhan ekonomi hijau di Indonesia sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan. yang merupakan tanggung jawab kita,” ucapnya.***

Ngopeni Ngelakoni

Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Tengah, Momentum Kerja Nyata Atasi Kemiskinan

PEKALONGAN – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Provinsi Jawa Tengah tidak hanya diisi dengan seremoni dan upacara belaka. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng menjadikan momentum ini juga sebagai penguatan komitmen dalam mengentaskan kemiskinan, salah satunya melalui program peningkatan kualitas Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Pada 2025, Pemprov Jateng menargetkan 23 ribu RTLH mendapat bantuan peningkatan kualitas, jumlah yang termasuk tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia. Program ini menjadi bukti bahwa pembangunan tidak hanya berhenti pada seremoni, melainkan diwujudkan dalam kerja nyata. Anggaran perbaikan RTLH 17 ribu dengan total 340 milyar bersumber dari APBD dan 6 Ribu dari corporate social responsibility (CSR). Selain itu Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menjalin kerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan, di antaranya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), perusahaan-perusahaan, dan pihak-pihak lain, untuk memfasilitasi perbaikan RTLH. Pemprov Jateng juga menggandeng berbagai pihak untuk menyalurkan program ini, seperti BAZNAS, mahasiswa KKN Tematik, organisasi masyarakat, dan pihak-pihak lain. “Ini merupakan kolaborasi yang sangat baik antara masyarakat, antara lembaga” ungkap Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin, saat meninjau bantuan RTLH di Pekalongan, Selasa (19/8/2025). Kolaborasi ini tidak hanya menyasar warga kurang mampu, tetapi juga masyarakat terdampak bencana. Salah satunya dialami Mustakim, warga Dukuh Paesan, Kedungwuni Barat, Kabupaten Pekalongan, yang kehilangan rumah akibat banjir bandang pada Januari 2025. Rumahnya hanyut diterjang material lumpur dari DAS Kali Sengkarang. Kini, Mustakim bersama keluarga sudah bisa kembali menempati rumah baru hasil program RTLH.“Alhamdulillah, rumah baru ini sudah siap huni dan terasa nyaman. Kalau dulu setiap hujan selalu khawatir banjir, sekarang lebih tenang,” ucap Mustakim. Program RTLH menjadi salah satu wujud kepedulian dan kerja nyata Pemprov Jateng dalam mewujudkan rumah layak bagi masyarakat, sekaligus bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan. “Kolaborasi ini menunjukkan bahwa ketika banyak pihak bersatu untuk kebaikan, maka akan semakin banyak yang tertolong,” tegas Taj Yasin. HUT ke-80 Jawa Tengah salah satunya melalui RLTH menjadi momentum bentuk nyata untuk ngopeni lan ngelakoni masyarakat, sebagaimana yang terus diupayakan oleh Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin.***

Ngopeni Ngelakoni

Bupati Sudewo Sakit, Wagub Jateng Jadi Irup Upacara HUT RI di Pati

PATI – Upacara peringatan HUT ke-80 RI di Kabupaten Pati, Minggu 17 Agustus 2025, berlangsung khidmat meski Bupati Pati Sudewo berhalangan hadir karena sakit. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin turun langsung memimpin jalannya upacara di Alun-alun Pati. Usai upacara, sosok yang akrab disapa Gus Yasin ini mengingatkan pentingnya momentum kemerdekaan sebagai perekat kebersamaan dan semangat gotong royong. “17 Agustus adalah hari ulang tahun negara kita. Hari ini sangat penting, sangat sakral, dan selalu ditunggu oleh masyarakat. Karena itu, pemerintah mengajak kita semua menghormati hari sakral ini dengan menjaga kondusivitas, kebersamaan, serta merenungi jasa para pahlawan dan proklamator Republik Indonesia,” ujarnya. Menurut Gus Yasin, kehadirannya di Pati merupakan bentuk komitmen pemerintah provinsi untuk menjaga stabilitas dan memberikan dorongan semangat bagi jajaran Pemda serta ASN agar terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. “Pembangunan harus terus berjalan, pemerintahan tidak boleh berhenti. Masyarakat menunggu pengabdian dari pemerintah,” tegasnya. Ia juga mendoakan Bupati Sudewo agar segera pulih. “Saya hadir di sini menjalankan amanah dari Pak Gubernur, untuk memimpin upacara 17 Agustus di Pati, beliau (Bupati Sudewo) berhalangan karena sakit,” kata Gus Yasin. Selain Forkopimda, upacara juga dihadiri Ketua dan anggota DPD serta tokoh masyarakat. Yasin menilai hal ini sebagai bukti kuatnya kebersamaan untuk menjaga pelayanan publik dan stabilitas daerah. Terkait dinamika politik di Pati, termasuk wacana hak angket, Yasin menegaskan semua pihak harus menghormati proses demokrasi sesuai aturan hukum. “Indonesia adalah negara hukum. Segala sesuatunya sudah diatur dalam undang-undang, termasuk UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah. Proses yang berjalan di DPRD adalah bagian dari demokrasi, untuk mewujudkan pemerintahan yang sesuai aturan. Kita tunggu hasilnya,” ungkapnya. Gus Yasin menutup dengan ajakan agar momentum kemerdekaan dijadikan energi untuk menatap masa depan dengan optimisme. “Pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Pati, harus terus tumbuh. Kita harus sejahtera bersama melalui gotong royong,” tandasnya.***

Ngopeni Ngelakoni

Napak Tilas Kemerdekaan, Wagub Jateng Taj Yasin Gowes Bareng PWNU dan Anshor Jawa Tengah

SEMARANG – Udara pagi Kota Semarang, Sabtu 16 Agustus 2025, terasa berbeda. Ratusan pesepeda berkaos putih-hijau memadati halaman Kantor PWNU Jawa Tengah. Dengan semangat kebersamaan, mereka mengayuh pedal menempuh rute yang sarat makna sejarah perjuangan kemerdekaan. Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, di antara rombongan turut gowes menelusuri jalan-jalan legendaris Semarang. Start dari Kantor PWNU Jawa Tengah, jalur berlanjut ke Bubakan, menyusuri Kota Lama, lalu menuju Tugu Muda. Lalu melintasi Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi, hingga akhirnya finis di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal. Rute ini bukan sekadar olahraga pagi. Melainkan simbol napak tilas jejak perjuangan para pahlawan. Dari Kota Lama yang menyimpan kisah perlawanan rakyat, hingga Tugu Muda yang abadi sebagai monumen pertempuran lima hari di Semarang. Semua menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan hadiah, melainkan hasil pengorbanan. Acara gowes ini dihadiri pula Ketua PWNU Jawa Tengah Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin), dan Shidqon Prabowo, Katua Ansor Jateng. Kehadiran mereka semakin menegaskan bahwa semangat kebangsaan harus dirawat bersama lintas generasi. Taj Yasin menekankan pentingnya menjadikan HUT ke-80 Republik Indonesia dan HUT ke-80 Provinsi Jawa Tengah sebagai ajang refleksi. “Jawa Tengah dalam memaknai Hari Kemerdekaan harus lebih banyak melakukan introspeksi dan perenungan. Bagaimana para pendiri bangsa memperjuangkan tanah air kita bersama. Anak-anak muda harus betul-betul mengingat sejarah nenek moyang kita, salah satunya peran pendiri Nahdlatul Ulama yang menyerukan jihad untuk mengusir penjajah,” ungkapnya. Pada kesempatan itu, Taj Yasin juga menyinggung sosok dr. Kariadi, tokoh kesehatan yang gugur dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. “Beliau berjuang hingga akhirnya gugur, tapi pengorbanannya membuahkan hasil: penjajah berhasil diusir dari Kota Semarang. Nanti kita gali lagi kajian tentang dr. Kariadi agar beliau bisa diusulkan sebagai Pahlawan Nasional,” tambahnya. Sementara itu, Ketua PWNU Jawa Tengah Gus Rozin menekankan peringatan kemerdekaan tidak hanya berhenti pada euforia, tetapi harus diwujudkan dalam pembangunan manusia. “Kemerdekaan adalah titik berangkat kita sebagai bangsa. Tugas kita sekarang adalah mengisi kemerdekaan sebaik-baiknya, terutama dengan pembangunan sumber daya manusia. NU ingin memastikan pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan di desa tidak kalah dengan di kota,” jelasnya. Ia menambahkan, salah satu fokus NU adalah meningkatkan kualitas layanan kesehatan, termasuk meneladani perjuangan dr. Kariadi. “Beliau adalah simbol perjuangan di bidang kesehatan. Ini sejalan dengan ikhtiar NU untuk memperbaiki layanan kesehatan di seluruh cabang NU Jawa Tengah,” tutur Gus Rozin. Suasana dialog di TMP Giri Tunggal menjadi penutup yang khidmat. Di tempat para pahlawan dimakamkan, para pesepeda sekaligus diingatkan bahwa kemerdekaan adalah warisan suci yang wajib dijaga.***

Ngopeni Ngelakoni

Festival Jateng Syariah 2025, Gus Yasin dan Ning Nawal Kagumi Produk Fesyen Lokal

SEMARANG – Berbagai produk feysen seperti batik dan wastra nusantara dengan motif-motif etnik dan warna-warna hangat, tergantung anggun pada puluhan stan yang berjajar di lobi Hotel Queen City Kota Semarang, Kamis (14/8/2025). Pemandangan itu menjadi pembuka hangat bagi para tamu Festival Jateng Syariah (Fajar) 2025, termasuk Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin, dan sang istri yang juga Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng, Nawal Arafah Yasin. Dengan langkah santai dan senyum merekah, pasangan yang akrab disapa Gus Yasin dan Ning Nawal itu menyusuri deretan stan yang memamerkan produk fesyen halal, mulai dari batik tulis klasik hingga wastra dengan sentuhan desain modern. Ketertarikan dan kekaguman terpancar dari wajah keduanya. Terutama, saat Gus Yasin dan Ning Nawal berhenti di beberapa stan UMKM lokal yang memamerkan kain-kain khas dari berbagai daerah di Jawa Tengah. “Lihat, ini Mi. Bagus ya motif dan warnanya,” kata Gus Yasin kepada Ning Nawal, ketika menyentuh dan mengamati selembar batik bermotif kontemporer di sebuah stan milik pengrajin UMKM lokal. “Produk-produk lokal seperti ini yang harus terus kita dukung,” sahut Ning Nawal, mengangguk pelan sembari tersenyum. Pada kesempatan itu, Gus Yasin dan Ning Nawal juga berdialog hangat dengan pengrajin dan pelaku UMKM, mendengarkan cerita di balik tiap motif dan teknik pewarnaan alami yang digunakan. Tidak hanya fesyen, kegiatan Fajar 2025 tersebut juga menampilkan berbagai produk kuliner dan UMKM, yang sudah tersertifikasi halal. Mulai dari beraneka makanan berat, hingga makanan ringan atau jajanan. Festival Jateng Syariah merupakan agenda tahunan yang dihelat oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI). Pada 2025 ini mengangkat tema “Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Melalui Pengembangan Halal Value Chain untuk Memperkuat Stabilitas dan Kemandirian Ekonomi Jawa Tengah”. Kembangkan Wisata Ramah Muslim Pada kesempatan itu, Wagub Taj Yasin, mengajak seluruh stakeholder untuk mendukung terciptanya ekosistem ekonomi syariah, melalui penguatan regulasi dan pengembangan wisata ramah muslim. Ini menjadi salah satu program prioritas Ahmad Luthfi-Taj Yasin. Pengembangan ekonomi syariah di Jateng juga diintgerasikan dengan arah kebijakan pemprov yang dikonsep secara tematik. Di mana pada 2025, pembangunan berfokus pada bidang infrastruktur, 2026 swasembada pangan, dan 2027 sektor pariwisata. Gus Yasin mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir, Pemprov Jateng memang serius untuk menggarap sektor pariwisata ramah muslim. Berbagai upaya telah dilakukan di 35 kabupaten/ kota, mulai dari hulu hingga hilir, untuk mendukung ekosistem tersebut. “Sehingga kita minta stakeholder yang ada di Jawa Tengah, untuk mengampanyekan ini semua, menyampaikan ini semua, sehingga (ekonomi) kita bersama-bersama tumbuh,” kata dia, saat konferensi pers, seusai membuka acara. Dikatakan, Pemprov Jateng telah melakukan berbagai upaya untuk membangun ekosistem pariwisata ramah muslim. Dari hulu, membangun Rumah Potong Hewan (RPH) dan Rumah Potong Unggas (RPU) halal serta melatih juru sembelih halal (Juleha). Kemudian proses pengolahan dan penggilingan daging juga didorong untuk memperhatikan syariat Islam. Di hilirnya, produk olahan makanan yang sudah jadi, harus sudah tersertifikasi halal dari lembaga terpercaya, sebelum dijual di pasar maupun mal. “Maka saya mengajak mal-mal di Jawa Tengah, khususnya di Kota Semarang, ayo kita bersama-sama memberikan kenyamanan kepada mayoritas umat muslim di Jawa Tengah, wisatawan di Jawa Tengah, dengan menyediakan halal corner,” kata dia. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jateng, Rahmat Dwisaputra mengatakan, pihaknya siap mendukung visi Pemprov Jateng menciptakan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah melalui pengembangan nilai rantai halal, guna memperkuat stabilitas dan kemandirian ekonomi. Dia mengatakan, sinergi bersama Pemprov Jateng sudah berjalan, terutama terkait produk kuliner tersertifikasi halal. Ke depan, pihaknya berencana agar sertifikasi halal tersebut juga berlaku untuk produk feysen dan wastra nusantara. “Halal value chain itu meliputi berbagai sektor, ada makanan, minuman, fesyen, pembiayaan, keuangan, pariwisata ramah muslim. Ini semua kita wujudkan di Jawa Tengah,” ungkap Rahmat.

Ngopeni Ngelakoni

Taj Yasin Minta Anggota Pramuka Jadi Teladan di Masyarakat

SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin, mendorong gerakan pramuka di wilayahnya terus digalakkan. Sebab, nilai-nilai Pramuka tetap relevan untuk membangun karakter bangsa di tengah era yang serba digital. “Gerakan pramuka ini penting di era digitalisasi, di era yang serba cepat, dan di era di mana manusia tidak sering berinteraksi,” kata Taj Yasin usai mengikuti Renungan Ulang Janji Pramuka Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Tengah, di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal, Semarang, Rabu (13/8/2025) malam. Menurut tokoh yang juga anggota Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Pramuka Jateng ini, gerakan pramuka memiliki nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan cara berpikir positif. “Pramuka harus kita gerakkan dan galakkan. Ajak anak-anak untuk ikut gabung, sehingga mereka lebih mengerti mengenai pengabdian kepada negara, bangsa, dan memperjuangkan masyarakat,” ujar dia. Menurut Gus Yasin, sapaan akrab wagub,, Pramuka adalah wadah penting untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa. Nilai-nilai yang ditanamkan masih dibutuhkan di era saat ini, mengingat dalam Pramuka kental dengan gerakan kebersamaan, disiplin, dan patuh, termasuk kepada orang tua. Pada ulang tahun ke-64 Gerakan Pramuka ini, dia berharap setiap anggota pramuka menjadi teladan di tengah masyarakat. “Kalau ada permasalahan, musyawarahkan. Harus punya pikiran inovatif, jernih, dan jangan membenarkan diri sendiri,” katanya. Pada acara yang dihadiri perwakilan anggota Pramuka, Ketua serta pengurus Kwarda Jawa Tengah ini, Taj Yasin juga mengingatkan, 2045 akan menjadi momen penting bagi Indonesia. “Untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, bukan kami yang akan memimpin, tapi kalian, anak-anak muda. Belajarlah rajin, jaga kerja sama, kedepankan toleransi, dan yang paling utama siap untuk dikritik, serta siap jadi pemimpin yang bijak dan mau mendengarkan,” pungkasnya.

Ngopeni Ngelakoni

Nawal Yasin Apresiasi TP PKK Kota Semarang yang Terdepan Jalankan Program

SEMARANG – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang, didorong terus memperkuat keberlanjutan program pemberdayaan keluarga. Hal itu disampaikan Ketua TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat menghadiri Pengukuhan Ketua dan Pelantikan Pengurus TP PKK, Tim Pembina Posyandu, Bunda Literasi, serta Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Semarang, Kecamatan, dan Kelurahan, Masa Bakti 2025–2030. Acara berlangsung di Aula Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Rabu (13/8/2025). Nawal mengapresiasi Kota Semarang, yang selalu menjadi yang terdepan dalam pelaksanaan program provinsi, termasuk Posyandu. Dia menunjuk contoh, transisi Posyandu dari Integrasi Layanan Primer (ILP), menjadi enam standar pelayanan minimal (SPM). “Ini sudah dilakukan di Kota Semarang. Dan pilot project-nya adalah di Posyandu Cangkiran, Kecamatan Mijen. Nanti akan menjadi pilot project 35 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah,” ujar Nawal usai kegiatan. Nawal berharap, seusai pelantikan dan pengukuhan ini, yang utama bisa menjawab isu-isu strategis yang ada di Jawa Tengah. Seperti, mengenai stunting, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kemudian AKI AKB, pola asuh terhadap anak. Hal itulah yang bisa dilakukan PKK. Untuk Bunda PAUD, dia mendorong dibentuknya PAUD Emas, yakni PAUD swadaya masyarakat. Setiap posyandu digelar, di situ ada pelayanan pendidikan PAUD di dalamnya. Nawal menilai hal itu sudah dilakukan di Kota Semarang. Bunda PAUD Jawa Tengah ini berharap gerakannya satu desa satu PAUD, karena partisipasi aktif kasar untuk anak usia 0 sampai 6 tahun di Provinsi Jawa Tengah, yang bersekolah PAUD itu hanya 16 persen. Menurutnya, PAUD di Semarang sudah melayani itu di Posyandu. Namun di kabupaten dan kota yang lain banyak desa yang belum memiliki PAUD. “Jadi upayanya adalah bersinergi dengan Posyandu. Ketika Posyandu digelar, ada layanan PAUD, layanan untuk galeri perpustakaan sebagai pelayanan pendidikan. Di Kota Semarang ini bisa dilakukan masif di posyandu-posyandu yang menjadi satu pelayanan pendidikan ya. Ini mungkin akan lebih informatif,” jelas Nawal. Peran PAUD, katanya, akan bisa menstimulasi anak-anak mengembangkan literasi. Termasuk dalam pelayanan PAUD lainnya, bisa diintervensi agar yang belum dilakukan pelayanan lain, bisa dilakukan. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menegaskan pelantikan ini menjadi momentum memperkuat sinergi antarorganisasi. PKK dan Posyandu, menurutnya, perlu menyesuaikan pola kerja agar indikator pembangunan yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dapat tercapai. “Kita mendapat tugas mengungkit pertumbuhan ekonomi sampai delapan persen. Angka delapan persen itu hanya bisa dicapai jika ada perubahan dalam struktur sosial dan budaya masyarakat. Jika budaya tidak bisa diintervensi maka sulit bagi kita mencapai titik delapan persen,” kata dia. Diungkapkan, pada 2026 Kota Semarang akan menggelar berbagai kegiatan untuk masyarakat menampilkan potensi daerah, mulai dari keindahan, kebersihan, keramahtamahan, kuliner lokal, hingga destinasi wisata variatif. PKK, Posyandu, PAUD, dan Bunda Literasi akan dilibatkan langsung. Agustina menekankan, PAUD memiliki peran strategis mempersiapkan generasi 2045. “Anak-anak PAUD hari ini adalah calon pemimpin di masa depan,” katanya. Literasi juga harus menjadi gerakan bersama, melibatkan camat, lurah, aktivis literasi, hingga media. Agustina menjelaskan, program literasi akan dikolaborasikan lintas sektor, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Kearsipan. Contohnya, literasi mencuci tangan di PAUD yang materi kesehatannya disiapkan Dinas Kesehatan, sementara bahan bacaan dan edukasi disiapkan oleh Dinas Kearsipan. “Gerakan ini harus masif dan tidak sektoral. Semua bergerak bersama untuk menciptakan masyarakat yang sehat, cerdas, dan berbudaya,” kata Agustina.

Scroll to Top